Sa, Su, Pu

By | October 29, 2014

Baca tulis, bermain dengan hurufdan angka. Hitungan satu sampai sembilan itu mudah saja, dua tangan yangberjumlah lima jari tiap tangannya masih sisa. Tapi apa jadinya jika mama-mamayang putus (tidak) sekolah harus menulis dalam daftar panjang. Sebenarnyapertanyaannya itu singkat dan mudah, semudah dan seenak makan ulat sagu dibalutsagu lalu dibakar. Hemmm….lezatnya (ealahhhnyambung gak sih ini….) 

Ah…dorang malas tahu kalausudah berbau-bau baca dan tulis. Ah…sebenarnya aku juga tidak ingin membuatmama-mama itu pusing tujuh keliling gara-gara huruf dan angka. Tapi apa bolehbuat, dorang harus mengerti bahwa dunia ini tidak selebar Asmat saja. Sekarangsemua orang boleh keluar masuk kampung sesuka hati dengan banyak alasan. Apalagipusat kota kabupaten (Agats) yang seolah-olah bukan milik orang Asmat. Lebihmudah menemukan kulit putih (sawo matangpun dianggap putih) dan rambut lurus ketimbangsi hitam dan kriting. Pendatang merajai pusat kota (bisa ditebak kemanaperginya yang punya tanah kan?)

Baiklah kembali pada huruf danangka nih. Pertemuan kampung selalu identik dengan bapak-bapak. Dari kampungsatu kekampung lain begitu adanya. “Tolongpertemuan besuk setiap kampung ada wakil perempuan”, nah kalau sudah begitukek main sulap. Bin salabin…muncullahsejumlah mama-mama yang hampir-hampir seimbang (bahkan lebih banyak) denganjumlah bapa-bapa. Seingatku, itupun karena sekian persen ‘kecelakaan’. KampungSono dan Erme banyak mama-mama karena laki-laki sibuk ngurusi pemilu presiden,di kampung Sanem karena sibuk ikut merayakan 17 agustus didistrik, di Yepemkarena berkali-kali ku garis bawahi (serasaaku bawa pengaris dimana-mana nih) ‘jangan lupa perempuan ya’.

Materi pertemuanpun bantingsetir ketika jumlah mama lebih banyak. Dan akupun benar-benar ‘kebanting’karena harus buka ‘kitab cara’ yang pas. Balajar rumah tangga. Itu bukan baranganeh yang muncul dari planet mars bukan? Kujelaskan dengan semangat ’45 apa itubelajar rumah tangga “sekarang isilahkertas halaman pertama, isi alamat lengkap, nama dan seterusnya”. Kulihatkertas itu hanya ditatap mama-mama dengan manisnya seolah dapat surat cinta daripacarnya. Satu Pace datang mendekat lalu bicara dalam bahasa (100% aku ra mudeng pastinya) lalumenulis huruf demi huruf diatas kertas lalu mama-mama itu meniru rentetan hurufitu

Elalah…..begitu bodohnya aku, tidak paham apa yang sedangterjadi. Bahwa bisa menulis bukan berarti menulis lancar. Bisa menulis artinyameniru tulisan. Ok fine, sekarangakupun ikut-ikut pace agar halaman pertama terisi dengan manisnya. Setengahhalaman terisi. Tiba saatnya mengisi identitas semua anggota keluarga yanghidup serumah. Nama lancar, jenis kelamin lancar, pekerjaan lancar. Ketikaharus ngisi kolom umur semua berhenti sejenak, serasa itu soal matematika kelaskakap terpadu dengan fisika dan kimia. Tidak bisa dijawab. Jangan harap adakata-kata ‘selamat ulang tahun’ dalambahasa Asmat karena tahu umur saja bukan barang lumrah. Mengingat usia satuorang saja harus ku cocokan dengan ‘tanda-tandaalam’ sehingga aku paham kira-kira itu tahun berapa dan bingo….. terisilah umur itu. Jadiintinya, umur itu kira-kira J.

Halaman kedua ini mengisitentang belanja rata-rata perbulan, semua terkait kebutuhan sehari-hari. “Mace, satu bulan menghabiskan sagu berapabanyak? “ tanyaku. Sebelum dijawab kulanjutkan lagi “sagu beli tidak? Kira-kira sebulan habis berapa?” Jawab mace “sagu tidak ada beli, habis cari lagi,begitu”. Mendengar jawaban itu maka pertanyaan harus segera diubah. Bukanbulan tapi minggu “Kalo pergi ke bevakcari sagu dapat tahan berapa hari dirumah?” Memang ada jawaban tapi bukanangka rupiah yang muncul, sagu yang didapat tersebut habis untuk dikonsumsiselama 2-3 minggu setelah habis dorang pergi lagi ke dusun (hutan) untukmencari sagu. Beginilah asyiknya bicara-bicara sagu: 

“habis dua minggu itujika dihitung ada berapa tumang?”
“ah…tidak ada tumangdong bikin bola atau gelas. Dibevak dapat sagu lalu dibagi-bagi menjadi bolaatau noken”
“baik mace, minggukemarin pergi ke bevak kah?”
“iyo, dong pergi kebevak”
“mace dapat saguberapa?”
“ada tiga…tiga bola”
“su habiskah sagutiga bola itu?”
“ah..masih ada, sedikit.”
“oh..brati 3 bolauntuk 2 minggu ya?”
“itu sudah. Nantihabis cari lagi” 

Ingin rasanya aku berkata sambilsenyum-senyum sendiri “Gusti nyuwunwelas, bahasa apalagi yang harus kugunakan, mungkin aku harus belajar bahasarimba atau bahasa gaib agar mudah memahami dengan cepat. Satu soal butuh waktu½ jam”. Setidaknya jawaban angka sudah mulai nampak meski istilah takaranversi dorang. Ukuran tumang, noken, bola bahkan gelas ada juga ukuran ikat dantusuk untuk ikan atau udang. Lengkap sudah kupahami ukuran versi bevak, takkalah dengan para ilmuwan yang mendapatkan nobel. Fisika punya ukuran sepertiwatt, ampere, omh dan lainnya. Sedangkan matematika punya ukuran persegi, kubikderajad cs. Bevakpun tak mau kalah, dong punya ukuran sendiri.

Satu soal terjawab sudah. Mariberanjak kesoal nomer 2 dan 3 tentang lauk dan sayur. Alam menyediakansemuanya, tinggal bertanya “sekalimenjaring dapat berapa ikan atau udang, dimakan sendiri atau ada yang dijual?”.Percakapan untuk nomer 4 dimulai: 

“mace, soal no 4bacanya apakah?”
“bumbu masak” (darisepuluh mama-mama ada satu yang bisa membaca dan berhitung lumayan lancar.Hanya dia yang putus sekolah kelas lima, lainnya baru mulai pake seragam satudua tahun sudah tidak doyan bangku sekolah lagi)
“betul sekali, itucontohnya : garam, bawang merah, bawang putih, rockyo (terpasak nyebutmerek ki rek…karena itu yang diketahui dorang). Barang-barang itu beli atau panen kebun atau mencuri”
“ahh….beli sudah.Mana ada mencuri” (jawaban yang disertai tertawa lebar mace-mace)
“sebulan beliberapakah?”
“hemmm…dong beli ecersaja. Su habis ya beli lagi kalau ada uang” 

Mendengar jawaban itu aku hanyatersenyum, ternyata tingkat ‘kebodohanku’ belum berkurang saudara-saudara.Kenapa bertanya hal yang sama, mengulangi pertanyaan yang jelas-jelas tidakterukur. Sebulan rasanya waktu yang lama buat mace-mace ini sehingga sulitberhitung. Pertanyaan harus disederhanakan menjadi minggu bahkan hari. Tidakhanya urusan menulis saja berhitung juga harus kembali kemasa-masa berseragammerah-putih. Pertanyaan selanjutnya “satubulan ada berapa minggu? Satu minggu ada berapa hari? Atau lima ribu ditambah15 ribu berapa? Jika satu minggu beli minyak goreng 7.000 maka satu bulan habisberapakah?”. 

Kejadian senada harus kulalui (lagi)didapur ketika hendak membayar sayur, petatas, kasbi, pisang dan lainnya.Konsumsi pertemuan ini sengaja kubeli dari kebun mama-mama. Pertemuan sehariantentu membuat lapar. Jangankan mereka, aku saja lapar setangah mati. Apa yangdorang makan itu juga yang kumakan. Didapur ada mama-mama yang membawa hasilpanen, ada juga mama-mama yang membantu memasak untuk pertemuan. Rame sudahdapur itu. 

“mama, siapa saja yang membawa sayur ini?”
“clara, emma dansaya” (keren ya nama-nama orang kampung ini, tak kalah dengan nama-nama ditelenovelaxixixixi)
“hitung sudah…. adaberapa ikat itu. Sa harus bayar berapa?” (dorang mulai menghitung dengancaranya dan aku sengaja diam saja)“berapa mama?”
“clara bawa 5 ikat,emma bawa 10 ikat, sa bawa 7 ikat”
“satu ikat berapama?”
“lima ribu”
“baik lima ribu satuikat, jadi semuanya ada berapa” (hitungannya kan jelas 5+10+7 laludikalikan 5 ribu = 110.000)
“semua seratus ribusudah”
“ah..yang benar, hitunglagi sudah…. Kalau salah hitung sa tidak mau bayar”
“iyo to..seratusribu. Itu tambah itu tambah itu” (sambil menunjuk sayur-sayur dansenyum-senyum mama ini menjawab)
“mama kalau sa bayar100 ribu, nanti sa untung mama rugi berat. Hitung yang benar baru kubayar” (tidakbisa berhitung dan membaca artinya siap ditipu. Bukankah pembeli lebih senangjika harganya murah. Prinsip ekonomi yang sekolah ajarkan itu ternyata tidakmanusiawi ya ‘dengan modal sekecil-kecilnya dapat untung sebesar-besarnya’ jikaguru ngajar salah maka cara yang salahpun dianggap benar jadinya..hadewww) 

“anak perempuan hitung sudah…. mama supusing ini”
“mama..tidak semua pembeli itu seperti saya.Diluar sana senang jika mama salah hitung. Kalau mama tidak bisa baca tulisdengan baik, anak-anak mama harus bisa ya. Dorang suruh belajar dengan baik ya”(jawabku kok sok-sokan gitu ya, meskipun kujawab dengan tertawa lepas padamulanya *ngek-ngok)
“iyo…semua harus sekolah agar pintarseperti anak” (ceieleee aku dikatakan pintar, suit-suit….meskipun dalamhati aku bilang ‘sekolah jadi pintar jika ada gurunya ma. Lha…disini gurudatang seminggu minggat seabad :D’ )
“ini sa punya uang dua lembar saja, dibagimama bertiga sesuai dengan hasil kebunnya tadi ya. Jangan baku tengkar nantiketika bagi-bagi ini. Terimakasih mama” (jawabku mengoda mama-mama itu)
“iyo, terimakasih juga”
“bare….mama lanjut berkebun sudah” (bare= beres coee….)

Kejadian kek gitu tidak hanyadisatu atau dua kampung saja. Hampir merata dikampung-kampung pedalaman. Memangsih tidak semua tempat. Sebenarnya mama-mama itu mau diajak untuk belajar loh.Jika ada pertanyaan ‘siapa yang palingbersalah atas fenomena ini?’, tidak jauh-jauh jawabanya adalah aku. Sudahjelas didepan mata ada hal yang bisa kukerjakan, saat itu juga tanpa perluditunda-tunda. Tapi aku tidak pernah tinggal berlama-lama disatu kampung.Selesai pertemuan pindah kekampung lain, begitu seterusnya. ‘Keadaan boss…..’ (begitulah akumembela diri). Oh ya ada beberapa kata yang ngirit disini  (sebenarnya hampir merata disemua wilayahtimur): saya = sa, sudah = su, punya = pu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *