Hidup Ini Berat, Komandan!

By | October 29, 2014

Hidup ini berat komandan. Perjalanan dari Yaosakor ke Agats membutuhkan hari berganti agar terlampaui. Berangkat setelah makan siang sampai ditempat menjelang subuh dihari berikutnya. 

Rekor. Itulah perjalanan terlama yang pernah kulalui selama di Asmat, tanah lumpur ini. Biasanya cukup 2-3 jam, beda dengan perjalanan kali ini yang membutuhkan waktu 13 jam. Ra nyono!!. Sebenarnya aku malas ingin tahu hendak lewat mana, Kali apa dan arah mana. Who care gitu lohhhh. Sebagai penumpang yang baik maka manut adalah jalan terpuji, manut dengan driver hendak dibawa kemana. Sing penting slamet.. 

“Ah…air didepan su habis” anak-anak yang sedang bermain air di kali potong Fambrep itu mencoba memperingatkan kami. Adik-adik ini aneh juga, air masih mengalir begini dibilang habis? Emang airnya larikah?. Itulah pikiran dangkalku sambil melihat muka-muka tanpa kepastian di speedboat yang kutumpangi ini.

“Putuskan kita lanjut atau putar balik” sang driver melontarkan suatu pertanyaan (yang sebenarnya lebih seperti pernyataan tanpa butuh jawabanku). Ladalahhh….meneketehe, mo lanjut atau putar aku tidak tahu mana yang terbaik. Meski sudah hampir sak semester kaki ini beramah tamah dengan lumpur, tapi bukan berarti iya… aku tahu hal—hal kek gitu. Sumpehhh ekyee manut. Maka jika ini dianggap voting maka suaraku laksana ‘pupuk bawang’ (ora kanggo tak terdengar). 

Kulihat HP sudah ada sinyal (meski naik turun sesuka hati dan tiba-tiba hilang lagi entah kemana). Bukankah itu artinya tinggal sepelemparan batu saja? Peringatan alam ini ternyata sangat berat diputuskan. (Memang) hidup ini (benar-benar) berat komandan. Jika lanjut maka siap-siap kehabisan air di Kali Potong, jika putar balik maka bersiaplah untuk mendayung putar laut karena BBM jelas tidak cukup.

Lalu pede juga nih jawaban Manusia Kei membalas peringatan anak-anak itu  “ahh..tidak apa-apa ada tiga orang yang bisa dorong”. Seketika itu juga aku heran. Bukankah di speedboat ini ada 4 orang termasuk aku, kenapa hanya 3 yang disebut? Mungkin aku lelembut yang tembus pandang kali ya.

Tak jauh dari bevak (tempat anak-anak tadi bermain) air benar-benar lenyap, tinggal tetes demi tetes saja (oh, ini jelas lebay saudara-saudara). Pastinya air masih ada dong kalau hanya untuk melumasi telapak kaki).Speedboat tidak bisa lagi bergerak, yang duduk di depan dan paling belakang sudah siap bermandikan lumpur sedang Manusia Kei masih sibuk mencari celana pendek.Tidak mau kalah dengan Superboy atau Batman, dia berganti kostum.

“Perempuan Jawa jangan lihat belakang ya” kode keras untukku dari Manusia Kei sambil cengingisan (ehhh brayiii…plis sopo yoan sing arep noleh mburi, ora minatlah beta). Sesaat setelah berganti kostum Dong langsung terjun ke kali. Dorong..dorong dan dorong. Tanah lumpur sedikit memberi harapan untuk memperlancar acara dorong mendorong speedboat. Beda soal jika tumpukan ampas kayu menghalangi lumpur, artinya speedboatnya ngambek susah didorong.

Ini untuk kesekian kalinya buatku menjadi mahkluk tanpa guna jika aral rintang berbau-bau alam. Jelaslah Dong tidak memintaku ikut mendorong (bukannya membantu malah akan merepotkan pastinya). Tapi aneh rasanya ketika semua mengeluarkan tenaga dalamnya hingga darah penghabisan sementara aku hanya duduk manis di speedboat (ra due perikemanusiaan dan perikeadilan to?).

Pemberhentian pertama. Setelah lelah mendorong mereka berhenti sesaat. Sebenarnya dari tadi aku (sok-sokan) mikir apa yang bisa kulakukan ya. Kulihat dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Aku pun turun dari speedboat dan mengambil kamera (maunya sih ambil emas, permata, berlian tapi tidak mungkin kelesss). Kuhitung secara matematika rimba, apakah di sepanjang jalan pinggir kali ada ampas kayu atau jalan liku yang masih bisa kuinjak dengan ‘kaki jawa’ ini atau tidak. 

Sebenarnya‘petualanganku’ (jika tidak ingin dikatakan kesengsaraan) akan lebih gampang jika tidak membawa kamera. Bisa loncat sana loncat sini dengan leluasa. Sayangnya justru kamera inilah yang membuatku sedikit berguna di tengah hutan belantara kek gini. Kuabadikan ‘kesengsaraan’ mereka (yaelahhh sak rekoso-rekosone urip jik ae do narsis og pie jal). Aku salut dengan ketahanan tubuh orang-orang Asmat. 

Meski duri menusuk-nusuk kaki, lalat babi mengoyak tubuh atau pun aneka rupa penghuni alam ini mencoba menggoda kokohnya tenaga untuk bertahan di medan laga hutan belantara ini seolah semua gerak langkah itu ‘tarian’ seorang gardener yang sedang berada di kebun depan rumahnya. Nyaman dan menghibur. Gesit, tetap‘ceria’ dan yang pasti belum kudengar keluhan demi keluhan menyalahkan alam keluar dari mulut bahkan dalam bentuk bercanda sekalipun (kalau aku? Ahhhhh….kalah adohhhh kisanakk).

Ah..sumpehh kudu pie ki? Maju kena mundur kena. Sekitar 100 meter telah kulalui jalan yang tak serupa jalan dengan cukup manisnya. Batang-batang kayu bisa kupilih untuk melindungi kakiku agar tidak ternoda lumpur. Tidak kali ini. Aku tidak bisa berkutik. Terlalu lama kuberdiri mematung di situ. Mikir jalan keluar kek gini seperti mikir negara yang lagi ribut soal koalisi merah jambu. 

Pilih jalan kiri ‘selamat datang duri-duri’, pilih jalan kanan ‘welcome lumpur’ atau maju terus yang artinya harus bisa lompat kali kecil dengan sukses, jika tidak? bersiaplah masuk kali dan disambut dengan duri sagu yang melambai-lambai minta disapa. Duhhh, kudu pie ki. Sejatinya sepanjang aku menyusuri pinggiran kali tadi ada banyak duri tapi masih bisa kuhindari meski sesekali kena juga. Tapi ini duri sangat-sangat begitu terlihat (bukan lagi secuil tapi sebongkah) meski mata sedang ‘klilipen’ sekali pun pasti terlihat.

Ok fine, aku masih berdiri mematung bermenit-menit hingga akhirnya speedboat yang didorong tadinya ada di belakang, sekarang ada di samping kananku, 3 langkah saja. “Tuan putri perempuan jawa, apakah mau naik speed lagi?” tawaran si Asmat disertai senyum lebar seakan ‘ngece’akan ketidakberdayaanku bersahabat dengan alam ini. Tentu saja tawaran itu tidak perlu diulangi lagi dan cukup kubalas dengan senyum lebar juga (yoo gelem lahhh brooo…konyol setengah mati to kalau menolak tawaran tingkat dewa penolong itu).

Wait…aku tidak bisa asal lompat karena itu adalah jalan lumpur, salah pilih tumpuan bisa-bisa kaki ini malah terkubur oleh lumpur. Terbenam. Melihat tingkahku yang tidak jelas itu si Asmat mengulurkan tangannya dengan sikap cengengesannya. Lagi-lagi, aku tidak menolak demi keselamatan bangsa dan negara (rembugan opo cobo ki). Setidaknya kaki ini selamat meski yang namanya lumpur sudah tidak bisa lagi kuhindari.

Bulan September tanggal 29, Pukul 17.15 WIT. Pemberhentian yang kesekian kalinya. Waktu sudah tidak bisa dikatakan siang lagi, mentari mulai sibuk membenamkan diri. “Sekarang putuskan, kita akan tetap mendorong atau berhenti beristirahat sambil menunggu air naik?” lagi-lagi pertanyaan konyol yang jelas-jelas tidak bisa kujawab. Apa bedanya buatku, lanjut dorong aku tetap saja duduk manis diatas speedboat sambil sibuk ‘membantai’ lalat babi yang menganggu ketenanganku atau milih berhenti yang aku pun tidak tahu harus buat apa. Berhenti artinya segera mencari kayu bakar untuk api unggun. Pilihan yang bukan pilihan buatku. 

Mleset brooo. Kalender air tidak kulihat dengan seksama. Hitungannya, air naik jam 9 malam. Ditunggu dan ditunggu tetap saja air segitu-gitu saja. Hari pun berganti, 30 September pukul 2 pagi air baru merangkak datang dan mulai membawa speedboat keluar hutan. Jadi kek begini rasanya bermalam diatas speedboat sepanjang jam di kali potong tengah hutan beratapkan taburan bintang yang terlihat jelas karena tidak ada sinar buatan. Api unggun sudah mulai habis baranya, sisa persediaan lilin sudah mulai pudar dan baterei harus diirit untuk penyinar takala speedboat jalan nanti. Njut muncul jowone ‘untunge ra udan tjahhhh’. 

Ada banyak hal yang terjadi selama menunggu air. Mulai dari makan ikan ala kadarnya  dengan cara ‘bar-bar’, sagu bertabur kelapa sisa makan siang, pisang masak (yang harusnya untuk oleh-oleh di rumah) hingga bunyi-bunyi ‘kedamaian’ di tengah malam ditemani nyamuk serta hewan liar lainnya dibumbui mop (yang membuat hutan serasa milik moyang sendiri karena tertawa sekeras apapun tidak ada yang melarang). Terlalu panjang dituliskan dan terlalu luar biasa rasanya untuk dibagikan (dasar pamalas nulis, alesan aeki :D).

Dua hari setelah kejadian itu, kulalui jalur yang sama. Beda nasib. Air pasang dan speed berjalan lancar. Berhenti sejenak untuk narsis. Sekedar membandingkan ketika bisa lewat dengan lancar jaya dan mengenang kejadian seru (jika tidak ingin disebut ‘naas’) yang tiada taranya di hari sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *