Author Archives: admin

Sa, Su, Pu

Baca tulis, bermain dengan hurufdan angka. Hitungan satu sampai sembilan itu mudah saja, dua tangan yangberjumlah lima jari tiap tangannya masih sisa. Tapi apa jadinya jika mama-mamayang putus (tidak) sekolah harus menulis dalam daftar panjang. Sebenarnyapertanyaannya itu singkat dan mudah, semudah dan seenak makan ulat sagu dibalutsagu lalu dibakar. Hemmm….lezatnya (ealahhhnyambung gak sih ini….) 

Ah…dorang malas tahu kalausudah berbau-bau baca dan tulis. Ah…sebenarnya aku juga tidak ingin membuatmama-mama itu pusing tujuh keliling gara-gara huruf dan angka. Tapi apa bolehbuat, dorang harus mengerti bahwa dunia ini tidak selebar Asmat saja. Sekarangsemua orang boleh keluar masuk kampung sesuka hati dengan banyak alasan. Apalagipusat kota kabupaten (Agats) yang seolah-olah bukan milik orang Asmat. Lebihmudah menemukan kulit putih (sawo matangpun dianggap putih) dan rambut lurus ketimbangsi hitam dan kriting. Pendatang merajai pusat kota (bisa ditebak kemanaperginya yang punya tanah kan?)

Baiklah kembali pada huruf danangka nih. Pertemuan kampung selalu identik dengan bapak-bapak. Dari kampungsatu kekampung lain begitu adanya. “Tolongpertemuan besuk setiap kampung ada wakil perempuan”, nah kalau sudah begitukek main sulap. Bin salabin…muncullahsejumlah mama-mama yang hampir-hampir seimbang (bahkan lebih banyak) denganjumlah bapa-bapa. Seingatku, itupun karena sekian persen ‘kecelakaan’. KampungSono dan Erme banyak mama-mama karena laki-laki sibuk ngurusi pemilu presiden,di kampung Sanem karena sibuk ikut merayakan 17 agustus didistrik, di Yepemkarena berkali-kali ku garis bawahi (serasaaku bawa pengaris dimana-mana nih) ‘jangan lupa perempuan ya’.

Materi pertemuanpun bantingsetir ketika jumlah mama lebih banyak. Dan akupun benar-benar ‘kebanting’karena harus buka ‘kitab cara’ yang pas. Balajar rumah tangga. Itu bukan baranganeh yang muncul dari planet mars bukan? Kujelaskan dengan semangat ’45 apa itubelajar rumah tangga “sekarang isilahkertas halaman pertama, isi alamat lengkap, nama dan seterusnya”. Kulihatkertas itu hanya ditatap mama-mama dengan manisnya seolah dapat surat cinta daripacarnya. Satu Pace datang mendekat lalu bicara dalam bahasa (100% aku ra mudeng pastinya) lalumenulis huruf demi huruf diatas kertas lalu mama-mama itu meniru rentetan hurufitu

Elalah…..begitu bodohnya aku, tidak paham apa yang sedangterjadi. Bahwa bisa menulis bukan berarti menulis lancar. Bisa menulis artinyameniru tulisan. Ok fine, sekarangakupun ikut-ikut pace agar halaman pertama terisi dengan manisnya. Setengahhalaman terisi. Tiba saatnya mengisi identitas semua anggota keluarga yanghidup serumah. Nama lancar, jenis kelamin lancar, pekerjaan lancar. Ketikaharus ngisi kolom umur semua berhenti sejenak, serasa itu soal matematika kelaskakap terpadu dengan fisika dan kimia. Tidak bisa dijawab. Jangan harap adakata-kata ‘selamat ulang tahun’ dalambahasa Asmat karena tahu umur saja bukan barang lumrah. Mengingat usia satuorang saja harus ku cocokan dengan ‘tanda-tandaalam’ sehingga aku paham kira-kira itu tahun berapa dan bingo….. terisilah umur itu. Jadiintinya, umur itu kira-kira J.

Halaman kedua ini mengisitentang belanja rata-rata perbulan, semua terkait kebutuhan sehari-hari. “Mace, satu bulan menghabiskan sagu berapabanyak? “ tanyaku. Sebelum dijawab kulanjutkan lagi “sagu beli tidak? Kira-kira sebulan habis berapa?” Jawab mace “sagu tidak ada beli, habis cari lagi,begitu”. Mendengar jawaban itu maka pertanyaan harus segera diubah. Bukanbulan tapi minggu “Kalo pergi ke bevakcari sagu dapat tahan berapa hari dirumah?” Memang ada jawaban tapi bukanangka rupiah yang muncul, sagu yang didapat tersebut habis untuk dikonsumsiselama 2-3 minggu setelah habis dorang pergi lagi ke dusun (hutan) untukmencari sagu. Beginilah asyiknya bicara-bicara sagu: 

“habis dua minggu itujika dihitung ada berapa tumang?”
“ah…tidak ada tumangdong bikin bola atau gelas. Dibevak dapat sagu lalu dibagi-bagi menjadi bolaatau noken”
“baik mace, minggukemarin pergi ke bevak kah?”
“iyo, dong pergi kebevak”
“mace dapat saguberapa?”
“ada tiga…tiga bola”
“su habiskah sagutiga bola itu?”
“ah..masih ada, sedikit.”
“oh..brati 3 bolauntuk 2 minggu ya?”
“itu sudah. Nantihabis cari lagi” 

Ingin rasanya aku berkata sambilsenyum-senyum sendiri “Gusti nyuwunwelas, bahasa apalagi yang harus kugunakan, mungkin aku harus belajar bahasarimba atau bahasa gaib agar mudah memahami dengan cepat. Satu soal butuh waktu½ jam”. Setidaknya jawaban angka sudah mulai nampak meski istilah takaranversi dorang. Ukuran tumang, noken, bola bahkan gelas ada juga ukuran ikat dantusuk untuk ikan atau udang. Lengkap sudah kupahami ukuran versi bevak, takkalah dengan para ilmuwan yang mendapatkan nobel. Fisika punya ukuran sepertiwatt, ampere, omh dan lainnya. Sedangkan matematika punya ukuran persegi, kubikderajad cs. Bevakpun tak mau kalah, dong punya ukuran sendiri.

Satu soal terjawab sudah. Mariberanjak kesoal nomer 2 dan 3 tentang lauk dan sayur. Alam menyediakansemuanya, tinggal bertanya “sekalimenjaring dapat berapa ikan atau udang, dimakan sendiri atau ada yang dijual?”.Percakapan untuk nomer 4 dimulai: 

“mace, soal no 4bacanya apakah?”
“bumbu masak” (darisepuluh mama-mama ada satu yang bisa membaca dan berhitung lumayan lancar.Hanya dia yang putus sekolah kelas lima, lainnya baru mulai pake seragam satudua tahun sudah tidak doyan bangku sekolah lagi)
“betul sekali, itucontohnya : garam, bawang merah, bawang putih, rockyo (terpasak nyebutmerek ki rek…karena itu yang diketahui dorang). Barang-barang itu beli atau panen kebun atau mencuri”
“ahh….beli sudah.Mana ada mencuri” (jawaban yang disertai tertawa lebar mace-mace)
“sebulan beliberapakah?”
“hemmm…dong beli ecersaja. Su habis ya beli lagi kalau ada uang” 

Mendengar jawaban itu aku hanyatersenyum, ternyata tingkat ‘kebodohanku’ belum berkurang saudara-saudara.Kenapa bertanya hal yang sama, mengulangi pertanyaan yang jelas-jelas tidakterukur. Sebulan rasanya waktu yang lama buat mace-mace ini sehingga sulitberhitung. Pertanyaan harus disederhanakan menjadi minggu bahkan hari. Tidakhanya urusan menulis saja berhitung juga harus kembali kemasa-masa berseragammerah-putih. Pertanyaan selanjutnya “satubulan ada berapa minggu? Satu minggu ada berapa hari? Atau lima ribu ditambah15 ribu berapa? Jika satu minggu beli minyak goreng 7.000 maka satu bulan habisberapakah?”. 

Kejadian senada harus kulalui (lagi)didapur ketika hendak membayar sayur, petatas, kasbi, pisang dan lainnya.Konsumsi pertemuan ini sengaja kubeli dari kebun mama-mama. Pertemuan sehariantentu membuat lapar. Jangankan mereka, aku saja lapar setangah mati. Apa yangdorang makan itu juga yang kumakan. Didapur ada mama-mama yang membawa hasilpanen, ada juga mama-mama yang membantu memasak untuk pertemuan. Rame sudahdapur itu. 

“mama, siapa saja yang membawa sayur ini?”
“clara, emma dansaya” (keren ya nama-nama orang kampung ini, tak kalah dengan nama-nama ditelenovelaxixixixi)
“hitung sudah…. adaberapa ikat itu. Sa harus bayar berapa?” (dorang mulai menghitung dengancaranya dan aku sengaja diam saja)“berapa mama?”
“clara bawa 5 ikat,emma bawa 10 ikat, sa bawa 7 ikat”
“satu ikat berapama?”
“lima ribu”
“baik lima ribu satuikat, jadi semuanya ada berapa” (hitungannya kan jelas 5+10+7 laludikalikan 5 ribu = 110.000)
“semua seratus ribusudah”
“ah..yang benar, hitunglagi sudah…. Kalau salah hitung sa tidak mau bayar”
“iyo to..seratusribu. Itu tambah itu tambah itu” (sambil menunjuk sayur-sayur dansenyum-senyum mama ini menjawab)
“mama kalau sa bayar100 ribu, nanti sa untung mama rugi berat. Hitung yang benar baru kubayar” (tidakbisa berhitung dan membaca artinya siap ditipu. Bukankah pembeli lebih senangjika harganya murah. Prinsip ekonomi yang sekolah ajarkan itu ternyata tidakmanusiawi ya ‘dengan modal sekecil-kecilnya dapat untung sebesar-besarnya’ jikaguru ngajar salah maka cara yang salahpun dianggap benar jadinya..hadewww) 

“anak perempuan hitung sudah…. mama supusing ini”
“mama..tidak semua pembeli itu seperti saya.Diluar sana senang jika mama salah hitung. Kalau mama tidak bisa baca tulisdengan baik, anak-anak mama harus bisa ya. Dorang suruh belajar dengan baik ya”(jawabku kok sok-sokan gitu ya, meskipun kujawab dengan tertawa lepas padamulanya *ngek-ngok)
“iyo…semua harus sekolah agar pintarseperti anak” (ceieleee aku dikatakan pintar, suit-suit….meskipun dalamhati aku bilang ‘sekolah jadi pintar jika ada gurunya ma. Lha…disini gurudatang seminggu minggat seabad :D’ )
“ini sa punya uang dua lembar saja, dibagimama bertiga sesuai dengan hasil kebunnya tadi ya. Jangan baku tengkar nantiketika bagi-bagi ini. Terimakasih mama” (jawabku mengoda mama-mama itu)
“iyo, terimakasih juga”
“bare….mama lanjut berkebun sudah” (bare= beres coee….)

Kejadian kek gitu tidak hanyadisatu atau dua kampung saja. Hampir merata dikampung-kampung pedalaman. Memangsih tidak semua tempat. Sebenarnya mama-mama itu mau diajak untuk belajar loh.Jika ada pertanyaan ‘siapa yang palingbersalah atas fenomena ini?’, tidak jauh-jauh jawabanya adalah aku. Sudahjelas didepan mata ada hal yang bisa kukerjakan, saat itu juga tanpa perluditunda-tunda. Tapi aku tidak pernah tinggal berlama-lama disatu kampung.Selesai pertemuan pindah kekampung lain, begitu seterusnya. ‘Keadaan boss…..’ (begitulah akumembela diri). Oh ya ada beberapa kata yang ngirit disini  (sebenarnya hampir merata disemua wilayahtimur): saya = sa, sudah = su, punya = pu.

Asal-Usul Pesta Pokman

Disungai siret terdapat anak kali Jiit hiduplah seorang anak yatim piatu atau dengan bahasa asmat marmak tiwir. Marmak tiwir / anak piatu pada suaatu saat ia menemukan suatu impian baik untuk mendapatkan hubungan dengan orang-orang sekampungnya. Sebelum hubungan baik itu terjadi, orang-orang sekampung dengan dia tidak dipandang perlu kepanya.
Pada suatu hari lagi marmak tiwir/ anak piatu pada awalnya mengambil bahan-bahan persiapa dari kulit kayu dihutan untuk membuat atau menganyam topeng roh yang disebut pakaian setan,s esuai impiannya yang  didapati. Dan semua dengan persiapannya, dia memulai dengan menyanyam pakaian roh atau pakaian setan sementara pekerjaannya dia berusaha sampai selelsai membentuk pakaian atau topeng setan. 
Jadi anak piatu tersebut hidup pada waktu orang tua meninggal semuanya dia hidup susah dan menghadapi kelaparan. Hidupnya adalah mencari makanan sisa didalam kolam-kolom rumah disetiap rumah yang dibuangkan sisa-sisa manan oleh orang-orang dalam sekampung dengan dia. Anak yatim piatu menyelesaiakn pekerjaan menganyam pakaian topeng roh semuanya diselesaikan dengan mencampuri warna putih merah hitam dan menghias daun-daun didalam rumahnya tanpa semua orang tahu.
Setelah topeng roh itu selesai, lalu dia membawa pakaian tersebut kehutan untuk disembunyikan ditempat orang-orang mencari makan didusun setiap hari. 
Marmak tiwir/anak piatu bereskan dengan pekerjaan, lalu dia sampai dirumahnya memulai apa yang akan dilakukannya pakaian roh/ setan kepada orang-orang yang mencari makan dihutan atau dikali untuk dapat menakuti mereka atau bagaimana untuk mendapatkan makanan-makanan orang-orang ditakutinya.
Setelah marmak tiwir mendapat impian lagi dengan cara untuk menakutkan orang-orang dalam sedang mencari atau sedang mendayung pulang kekampung. 
Dan semua cara dan pikirannya sudah bisa dilakukann oleh dia, maka pada suatu hari orang-orang keluar mencari makanan dihutan memakai perahu dayung ke kali masing-masing menurut fam atau lingkungan.
Dan pada waktu orang-orang keluar mencari makanan dihutan marmak tiwir ikut dari belakang lewat jalan kaki hutan menuju tempat orang-orang sedang mencari makanan dihutan. 
Marmak tiwir tiba ditempat orang-orang sedang mencari dia ditempat tersebut memakai pakaian / topeng roh / setan lalu ia menampilkan dirinya dalam keadaan memakai berdiri didepan orang sedang mencari  lalu masyarakt sekampungnya pulang dari tempat mencari makan dengan ketakutan semuanya melihat dengan nyata apa yang disaksikan bersama didusun/dikali lalu memberi tahu kepada orang lain juga dikampung kedua kalinya anak piatu melihat orang-orang pergi kedusun pangkur sagu dengan amai-ramai mendayung perahu ketempat pangkur sagu.
Melihatnya anak piatu menyusul dari belakang lewat darat jalan kaki kehutan menuju ketempat orangorang pergi pangkur sagu. Sementara orang-orang sedang pangkur, anak piatu bersiap-siap memakai pakaian roh dari kulit kayu lalu menedekati mereka sedang pangkur ditempat. 
Pada waktunya orang bersiap-siap pulang dari temapt pangkur dan menuju ketambatan perahu mereka didalam kali. Mereka menpat sagu yang ukup dnegan bernoken-noken atau tumang.
Sementara orang-orang sedang jalan ikut rintis menuju tambatan perahu mereka sambil membawa sagu-sagu bernoken/tumng. Tiba-tiba anak piatu memakai pakaian atau topeng setan dan tampilkan diri ditengah-tengah orang yang sedang jalan menuju tambatan perahu, mereka dengan melihat didekat mata mereka bahwa setan tiba keluar dan semuanta takut lari turun ketempat tambatan perahu lalu mendayung pulang kekampung dan semua penghasilan pencarian dalam arti sagu bernoken/ tumang-tumang mereka lepas dan kasih tinggal dihuan karena snagat rasa ketakutan sekali sebab barang setan/roh tersebut muncul dikalangan didusun mereka, llau anak piatu membuka topeng tersebut dari badannya dan mengambil sagu bernoken-noken yang ditinggalkan orang-orang dihutan lalu marmak tiwir. 
Dihutan dan pakaian tersebut disembunyikan dihutan tempat yang sama untuk hari-hari berikutnya.
Dengan demikian pertistiwa telah menyebar luasnya maka masyarakat sempitnya diri merasa takur, tidak lagi pergi mencari makannan dihutan. Hampir semua orang-orang tidak ada makanan dirumah-rumah dan merasa kelaparan semuanya. Tetapi yang disebut anak yatim piatu dirumahnya banyak makanan. Karena hasil pungutan dihutan beberapa kali anak piatu dengan perbuatanya terhadap pencari makanan dengan orang-orang sekampung. 
Jadi sementara masyarakat sekampung tidak lagi mencari makan dihutan. Sementara mereka mengambil langkah atau cara apa untuk menangkap setan yang berpakaian atau topeng sedang ditakuti mereka.
Akhirnya jadilah sumbangan cara yang diambil bersama masyarakat dan mengambil kepusan dan merencanakan untuk mencari makan kelaur kehutan.
Lalu cara yang diambil adalah dua orang muda yang kuat menjadi teman sahabat yang baik difukuskan untuk bertahan maju menangkap setan yang berpakaian roh sewaktu mereka mencari makanan dihutan.

Maka pada satu hari semua orang pergi mencari makan karena dirumah-rumah keluarga tidak ada lagi makanan. Setelah mereka ramai-ramai pergi disatu tempat. 

Dan anak piatu juga jalan kehutan menusuri dari belakang menuju ketempat orang-orang sedang mencari.

Waktunya orang-orang mendapat makanan lalu siap untuk pulang semuanya. orang siap pulang sedang perjalanan menuju kekampung, anak piatu memakai topeng tersebut dapat tampilkan diri didepan banyak orang yang sedang pulang mendayung, banyak orang yang lain berpura-pura takut dan kedua orang sahabat baik bertahan maju dan tangkap lalu kepung dia sama-sama oleh msyarlaat semua dalam keadaan berpakain topeng samapi lemas napasnya anak piatu lalu dibuka pakaian tersebut dari badannya anak piatu dengan ramai-ramai oleh semua orang. 
Setelah dibuka semua dilihatnya dan disaksikan sama-sama oleh orang-ornag yang mencari makan diperjalanan pulang yang dilihatnya adalah anak yatim piatu ditangkap dengan pakaian topengnya bawa antar pulang sampai dikampung.
Dan semua orang tiba dikampung berita penagkapan diumumkan dikampung kepada orang kampung.
Lalu banyak orang berkumpul dirumah bujang untuk mencari tahu perbuatan anak piatu dapat melakukannya kepada orang kampung sendiri. 
Anak yatim piatu tidak sama sekali hubungan baik dengan semua orang dikampung. Anak piatu mulai menjelaskan semua sesuai pikiran atau impianya yang didapatkan untuk bisa mendapatkan makanan.
Karena dia merasa hidup sendirian tidak ada yang bisa dapat dibantunya. Marmak tiwir juga menjelaskan tentang beberapa bagian perbuatannya selama dia melakukan, itupun bagian-bagian atau unsur-unsur pesta yang dia menggambarkan serta merencanakannya pesta lalu marmak tiwir menjelaskan pula urutan pesta pokman/ jipay berpakain roh yang bisa diciptkanan oleh dia kepada orang-orang di sekampungnya. 
Jadi anak piatu/marmak tiwir meberi gambaran pesta tersebut dan memberi pesan supaya ornag-orang yang kasihan dan tidak ada hubungan sesama maka harus buat pesta pakaian roh orang yang mati/meninggal dunia agar mendapatkan hubungan roh dan dengan manusia hidup menjadi saudara atau bapak mama dekat dapat terjamin hubungan baik selamanya. Dan semua orang merasa heran atau kagum mendengar penjelasan dan rencana membuat pesta tersbut oleh anak yatim piatu.
Jadi anak piatu membuka semua perbuatannya dnegan bebas kepada banyak orang dikmapung dalam rumah bujang. 
Begitulah anak yatim piatu menjelasakan dan menciptakan pesta pokman /jipay dengan berpakain roh orang mati untuk dapat dihadirkan kembali lewat orang-orang yang tidak berhubungan baik untuk menjadi baik hubungan saudaranya.
Artinya. Orang-orang berlawanan didunia dengan orang lain untuk dpat bukan berlawanan didunia tetapi untuk bersahabat daik didunia. Selesailah cerita anak piatu sekali dangan menciptakan pesta.

Kartu Sakti

Jalan tidak terlalu padat. Malam belum penuh. Waktu timur ini masih sangat sore untuk barat. Pukul 20.00an, jam masih berkutat diangka 8 yang artinya baru jam 6 sore dibarat. Disini serasa malam sekali. Hanya beberapa orang masih sibuk membuat padat jalan utama Agats. 



“Kok lewat sini?, kenapa tidak langsung ketujuan saja?” rasanya tadi tidak ada kesepakatan untuk berbelok kearah ini pikirku. “Cek dulu itu kamu punya tangan.” Jawab manusia Bogor kelahiran Jogja ini dengan entengnya.

Males banget jika berurusan dengan rumah sakit. Isi kepala ini tidak nyaman jika harus mengingat-ingat rumah yang satu itu. Suntik? Ahh…kenapa. Aku paling tidak suka berkenalan dengannya. Belum lagi urusan birokrasi yang rumit. Itu sepintas ingatanku tentang rumah sakit. Jadi kenapa harus kesini, tanganku masih baik-baik saja. Tak perlu obat, nanti juga sembuh sendiri. ‘Begitulah Asmat’ kata banyak orang atau istilah lainnya ‘ajar ampuh’.

Entah…kaki ini mengikuti saja langkahnya meski berat. Ruang pertama yang dituju ada tertulis “Ruang Gawat Darurat”. Kenapa juga menuju ruang ini, bukankah tidak ada yang darurat. “Perikasalah kesana, itu tanya susternya. Kutunggu disini” enak sekali perintahnya padahal aku masih males masuk ruangan itu.

Kujelaskan dengan detail semua pertanyaan si penjaga ruang ini. Dan jawabnya begitu singkat pada akhirnya “daftar dulu diruang sebelah lalu nanti lanjutkan keruang poli”. Ealah mbak..mbak kenapa tidak dari tadi, cukup tanya sudah daftar belum.

Ruang kedua kutuju. Diam saja aku didepan ruang itu. Lima menit berlalu, karena ‘manusia bogor’ asyik bernostalgila dengan para petugas loker pendaftaran. Mereka berbincang hal-hal yang tidak kupahami sama sekali. Sesekali petugas bertanya hendak ngapain kesini, bertanya identitasku sekenanya sambil cekikian.

“Nona atau Ibu?” pertanyaan pertama petugas loker padaku langsung setelah aku dicuekin sekian menit. “Ibu yang masih Nona” kujawab dengan santai. Entah kenapa orang-orang sini senang sekali menyebut semua ‘pinjuru’yang berjenis kelamin perempuan dan dirasa sudah bekerja dengan sebutan Ibu. Apa karena pada mulanya para pendatang adalah guru yang biasa disebut ibu? Atau profesi-profesi lain yang sekiranya butuh formalitas? Aku tidak tahu pasti.

Pertanyaan kepo tentang diriku berakhir dan selesai loker pertama. Oh ya diloker pendaftaran pertanyaan tentang sakitkupun sebelas dua belas dengan orang yang kutemui diruang gawat darurat tadi. “Berapa?” pertayaan  umum yang tidak butuh rumus. “Gratis, lanjut kesebelah sana. Nona sudah masuk dalam Jamkesmas dan besuk kalo kesini bawa kartu itu lagi”, sebentar aku begong  karena peristiwa itu.

Semudah itukah mendapatkan Jamkesmas? Ini bukan karena aku diantar manusia bogor yang begitu dekat dengan petugas itu bukan? Ini memang layanan pemerintah yang diberikan pada semua rakyatnya kan tanpa kecuali tho? Kalau diminta memilih tentu aku pilih sehat dan tidak mendapatkan kartu ini. Bagiku Jamkesmas itu barang mewah ditempat lahirku.

Kartu ini kubawa kepoli. (Lagi) aku ditanyai tentang sakitku. Untuk ketiga kalinya kujelaskan apa yang sedang menimpa dengan jempolku. Oh…kupikir ini ruang terkahir yang harus kudatangi. Ngantri. Aku diminta duduk diruang tunggu. Seorang berbaju putih, masih muda memang wajahnya. Ini to dokter sebenarnya. Untuk bertemu dokter muda ini jalannya panjang sekali. Keempat kalinya kujelaskan apa yang terjadi.

Lalu dokter memberi keterangan panjang lebar yang membuatku rasanya menjadi manusia paling bodoh sedunia. Dulu ketika kuliah apa tidak ada pelajaran khusus untuk menebar senyum atau memberi sedikit keramahan pada pasien ya. Ataukah karena dokter ini bertugas dari pagi hingga malam sehingga nampak lelah, tidak gantian dengan dokter lainnya. Entalah.

Belum selesai. Apotek menjadi tujuan akhir agar obat bisa kuterima. Berbekal selembar kertas yang disebut resep dokter. Ragu-ragu kuinjakkan kaki ini didepan apotek. Kakiku hendak bergerak kearah berlawanan. Aku ingat betapa mahalnya obat yang harus kutebus beberapa bulan yang lalu ketika sakit kurasakan.

Kala itu obat yang hanya berjumlah berapa butir saja harus kutebus dengan angka yang diluar dugaanku. Kupikir lembaran merah dengan tulisan seratus ribu cukup. Tidak. Lembaran itu dikatakan cukup jika jumlahnya ada 4. Pengalaman itu yang membuatku ingin melangkah keluar dari rumah sakit. Aku hanya bawa lima ribu, itu yang tersisa dikantong celanaku. Langkahku terhenti. “Sudah sana ambil obatnya, aku bawa uang” cegah manusia bogor itu “baiklah aku pinjem dulu nanti setelah aku tahu harus bayar berapa ya” jawabku. 

“Obat ini diminum dua kali sehari, yang ini tiga kali sehari. Ini obat oles untuk luar” penjelasan apoteker yang sesekali kusela dengan pertanyaan. Bagiku, yang penting semua perintah itu tertulis dalam plastik obat itu sudah cukup. Obat oles kutolak karena obat serupa ada dirumah. Kutolak, siapa tahu ada yang lebih membutuhkan karena stok dirumah cukup. Kudapatkan obat oles itu dari puskesmas dikampung Pirimapun.

Kuperoleh obat itu tanpa diperiksa, suster cukup melihat sakitku kala itu. Itupun karena tidak sengaja. Anaknya suster itu bermain-main didepan gereja dengan anak salah satu tim delsos dan kebetulan mereka bersaudara jauh. Ketika suster itu menjemput anaknya, kami ngobrol sebentar dan lukaku dilihatnya. Sehari setelah kejadian itu obat oles dan minum datang. Aku enggan meminum obat itu karena rasanya tidak ada pemeriksaan yang semestinya. (Mungkin) suster tersebut sudah yakin dan biasa melihat lukaku sehingga tidak perlu bertanya panjang lebar. Hanya obat luar saja yang kupakai. Nah obat luar ini sama dengan yang akan diberikan oleh apoteker.

Semua obat itu masuk dalam satu kantong plastik. Kaget. Ketika kuketahui bahwa tidak membayar satu rupiahpun. “Tidak bayar bu? Sama sekali tidak membayarkah?” pertanyaanku kuulangi lagi. Begitulah adanya. Semua gratis dari awal hingga akhirnya kudapati obat-obat itu. Semua karena kartu sakti yang disebut Jamkesmas ini. Jawab sang apoteker singkat karena aku sudah terdaftar dalam kartu jamkesmas.

Kartu cuma-cuma yang kudapati satu jam yang lalu. Kartu yang kuperoleh tanpa syarat apapun bahkan sekedar menunjukan KTPpun tidak. Berharap kabar gembira ini juga dialami oleh banyak orang yang tidak paham sekalipun. Mereka yang tersingkir, miskin, lemah dan semua orang yang pantas mendapatkannya.

Agats adalah salah satu distrik (kecamatan) di Kabupaten Asmat, Papua, ini adalah distrik paling ‘modern’ dikabupaten ini. Keberadaan Sinyal hp dan listrik PLN menjadi penandanya.

Pinjuru adalah sebutan untuk para pendatang, rasanya seperti ‘bule’ ditanah Asmat ini karena ada sebutan lain.

Hidup Ini Berat, Komandan!

Hidup ini berat komandan. Perjalanan dari Yaosakor ke Agats membutuhkan hari berganti agar terlampaui. Berangkat setelah makan siang sampai ditempat menjelang subuh dihari berikutnya. 

Rekor. Itulah perjalanan terlama yang pernah kulalui selama di Asmat, tanah lumpur ini. Biasanya cukup 2-3 jam, beda dengan perjalanan kali ini yang membutuhkan waktu 13 jam. Ra nyono!!. Sebenarnya aku malas ingin tahu hendak lewat mana, Kali apa dan arah mana. Who care gitu lohhhh. Sebagai penumpang yang baik maka manut adalah jalan terpuji, manut dengan driver hendak dibawa kemana. Sing penting slamet.. 

“Ah…air didepan su habis” anak-anak yang sedang bermain air di kali potong Fambrep itu mencoba memperingatkan kami. Adik-adik ini aneh juga, air masih mengalir begini dibilang habis? Emang airnya larikah?. Itulah pikiran dangkalku sambil melihat muka-muka tanpa kepastian di speedboat yang kutumpangi ini.

“Putuskan kita lanjut atau putar balik” sang driver melontarkan suatu pertanyaan (yang sebenarnya lebih seperti pernyataan tanpa butuh jawabanku). Ladalahhh….meneketehe, mo lanjut atau putar aku tidak tahu mana yang terbaik. Meski sudah hampir sak semester kaki ini beramah tamah dengan lumpur, tapi bukan berarti iya… aku tahu hal—hal kek gitu. Sumpehhh ekyee manut. Maka jika ini dianggap voting maka suaraku laksana ‘pupuk bawang’ (ora kanggo tak terdengar). 

Kulihat HP sudah ada sinyal (meski naik turun sesuka hati dan tiba-tiba hilang lagi entah kemana). Bukankah itu artinya tinggal sepelemparan batu saja? Peringatan alam ini ternyata sangat berat diputuskan. (Memang) hidup ini (benar-benar) berat komandan. Jika lanjut maka siap-siap kehabisan air di Kali Potong, jika putar balik maka bersiaplah untuk mendayung putar laut karena BBM jelas tidak cukup.

Lalu pede juga nih jawaban Manusia Kei membalas peringatan anak-anak itu  “ahh..tidak apa-apa ada tiga orang yang bisa dorong”. Seketika itu juga aku heran. Bukankah di speedboat ini ada 4 orang termasuk aku, kenapa hanya 3 yang disebut? Mungkin aku lelembut yang tembus pandang kali ya.

Tak jauh dari bevak (tempat anak-anak tadi bermain) air benar-benar lenyap, tinggal tetes demi tetes saja (oh, ini jelas lebay saudara-saudara). Pastinya air masih ada dong kalau hanya untuk melumasi telapak kaki).Speedboat tidak bisa lagi bergerak, yang duduk di depan dan paling belakang sudah siap bermandikan lumpur sedang Manusia Kei masih sibuk mencari celana pendek.Tidak mau kalah dengan Superboy atau Batman, dia berganti kostum.

“Perempuan Jawa jangan lihat belakang ya” kode keras untukku dari Manusia Kei sambil cengingisan (ehhh brayiii…plis sopo yoan sing arep noleh mburi, ora minatlah beta). Sesaat setelah berganti kostum Dong langsung terjun ke kali. Dorong..dorong dan dorong. Tanah lumpur sedikit memberi harapan untuk memperlancar acara dorong mendorong speedboat. Beda soal jika tumpukan ampas kayu menghalangi lumpur, artinya speedboatnya ngambek susah didorong.

Ini untuk kesekian kalinya buatku menjadi mahkluk tanpa guna jika aral rintang berbau-bau alam. Jelaslah Dong tidak memintaku ikut mendorong (bukannya membantu malah akan merepotkan pastinya). Tapi aneh rasanya ketika semua mengeluarkan tenaga dalamnya hingga darah penghabisan sementara aku hanya duduk manis di speedboat (ra due perikemanusiaan dan perikeadilan to?).

Pemberhentian pertama. Setelah lelah mendorong mereka berhenti sesaat. Sebenarnya dari tadi aku (sok-sokan) mikir apa yang bisa kulakukan ya. Kulihat dengan seksama dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Aku pun turun dari speedboat dan mengambil kamera (maunya sih ambil emas, permata, berlian tapi tidak mungkin kelesss). Kuhitung secara matematika rimba, apakah di sepanjang jalan pinggir kali ada ampas kayu atau jalan liku yang masih bisa kuinjak dengan ‘kaki jawa’ ini atau tidak. 

Sebenarnya‘petualanganku’ (jika tidak ingin dikatakan kesengsaraan) akan lebih gampang jika tidak membawa kamera. Bisa loncat sana loncat sini dengan leluasa. Sayangnya justru kamera inilah yang membuatku sedikit berguna di tengah hutan belantara kek gini. Kuabadikan ‘kesengsaraan’ mereka (yaelahhh sak rekoso-rekosone urip jik ae do narsis og pie jal). Aku salut dengan ketahanan tubuh orang-orang Asmat. 

Meski duri menusuk-nusuk kaki, lalat babi mengoyak tubuh atau pun aneka rupa penghuni alam ini mencoba menggoda kokohnya tenaga untuk bertahan di medan laga hutan belantara ini seolah semua gerak langkah itu ‘tarian’ seorang gardener yang sedang berada di kebun depan rumahnya. Nyaman dan menghibur. Gesit, tetap‘ceria’ dan yang pasti belum kudengar keluhan demi keluhan menyalahkan alam keluar dari mulut bahkan dalam bentuk bercanda sekalipun (kalau aku? Ahhhhh….kalah adohhhh kisanakk).

Ah..sumpehh kudu pie ki? Maju kena mundur kena. Sekitar 100 meter telah kulalui jalan yang tak serupa jalan dengan cukup manisnya. Batang-batang kayu bisa kupilih untuk melindungi kakiku agar tidak ternoda lumpur. Tidak kali ini. Aku tidak bisa berkutik. Terlalu lama kuberdiri mematung di situ. Mikir jalan keluar kek gini seperti mikir negara yang lagi ribut soal koalisi merah jambu. 

Pilih jalan kiri ‘selamat datang duri-duri’, pilih jalan kanan ‘welcome lumpur’ atau maju terus yang artinya harus bisa lompat kali kecil dengan sukses, jika tidak? bersiaplah masuk kali dan disambut dengan duri sagu yang melambai-lambai minta disapa. Duhhh, kudu pie ki. Sejatinya sepanjang aku menyusuri pinggiran kali tadi ada banyak duri tapi masih bisa kuhindari meski sesekali kena juga. Tapi ini duri sangat-sangat begitu terlihat (bukan lagi secuil tapi sebongkah) meski mata sedang ‘klilipen’ sekali pun pasti terlihat.

Ok fine, aku masih berdiri mematung bermenit-menit hingga akhirnya speedboat yang didorong tadinya ada di belakang, sekarang ada di samping kananku, 3 langkah saja. “Tuan putri perempuan jawa, apakah mau naik speed lagi?” tawaran si Asmat disertai senyum lebar seakan ‘ngece’akan ketidakberdayaanku bersahabat dengan alam ini. Tentu saja tawaran itu tidak perlu diulangi lagi dan cukup kubalas dengan senyum lebar juga (yoo gelem lahhh brooo…konyol setengah mati to kalau menolak tawaran tingkat dewa penolong itu).

Wait…aku tidak bisa asal lompat karena itu adalah jalan lumpur, salah pilih tumpuan bisa-bisa kaki ini malah terkubur oleh lumpur. Terbenam. Melihat tingkahku yang tidak jelas itu si Asmat mengulurkan tangannya dengan sikap cengengesannya. Lagi-lagi, aku tidak menolak demi keselamatan bangsa dan negara (rembugan opo cobo ki). Setidaknya kaki ini selamat meski yang namanya lumpur sudah tidak bisa lagi kuhindari.

Bulan September tanggal 29, Pukul 17.15 WIT. Pemberhentian yang kesekian kalinya. Waktu sudah tidak bisa dikatakan siang lagi, mentari mulai sibuk membenamkan diri. “Sekarang putuskan, kita akan tetap mendorong atau berhenti beristirahat sambil menunggu air naik?” lagi-lagi pertanyaan konyol yang jelas-jelas tidak bisa kujawab. Apa bedanya buatku, lanjut dorong aku tetap saja duduk manis diatas speedboat sambil sibuk ‘membantai’ lalat babi yang menganggu ketenanganku atau milih berhenti yang aku pun tidak tahu harus buat apa. Berhenti artinya segera mencari kayu bakar untuk api unggun. Pilihan yang bukan pilihan buatku. 

Mleset brooo. Kalender air tidak kulihat dengan seksama. Hitungannya, air naik jam 9 malam. Ditunggu dan ditunggu tetap saja air segitu-gitu saja. Hari pun berganti, 30 September pukul 2 pagi air baru merangkak datang dan mulai membawa speedboat keluar hutan. Jadi kek begini rasanya bermalam diatas speedboat sepanjang jam di kali potong tengah hutan beratapkan taburan bintang yang terlihat jelas karena tidak ada sinar buatan. Api unggun sudah mulai habis baranya, sisa persediaan lilin sudah mulai pudar dan baterei harus diirit untuk penyinar takala speedboat jalan nanti. Njut muncul jowone ‘untunge ra udan tjahhhh’. 

Ada banyak hal yang terjadi selama menunggu air. Mulai dari makan ikan ala kadarnya  dengan cara ‘bar-bar’, sagu bertabur kelapa sisa makan siang, pisang masak (yang harusnya untuk oleh-oleh di rumah) hingga bunyi-bunyi ‘kedamaian’ di tengah malam ditemani nyamuk serta hewan liar lainnya dibumbui mop (yang membuat hutan serasa milik moyang sendiri karena tertawa sekeras apapun tidak ada yang melarang). Terlalu panjang dituliskan dan terlalu luar biasa rasanya untuk dibagikan (dasar pamalas nulis, alesan aeki :D).

Dua hari setelah kejadian itu, kulalui jalur yang sama. Beda nasib. Air pasang dan speed berjalan lancar. Berhenti sejenak untuk narsis. Sekedar membandingkan ketika bisa lewat dengan lancar jaya dan mengenang kejadian seru (jika tidak ingin disebut ‘naas’) yang tiada taranya di hari sebelumnya.