Kartu Sakti

By | October 29, 2014

Jalan tidak terlalu padat. Malam belum penuh. Waktu timur ini masih sangat sore untuk barat. Pukul 20.00an, jam masih berkutat diangka 8 yang artinya baru jam 6 sore dibarat. Disini serasa malam sekali. Hanya beberapa orang masih sibuk membuat padat jalan utama Agats. 



“Kok lewat sini?, kenapa tidak langsung ketujuan saja?” rasanya tadi tidak ada kesepakatan untuk berbelok kearah ini pikirku. “Cek dulu itu kamu punya tangan.” Jawab manusia Bogor kelahiran Jogja ini dengan entengnya.

Males banget jika berurusan dengan rumah sakit. Isi kepala ini tidak nyaman jika harus mengingat-ingat rumah yang satu itu. Suntik? Ahh…kenapa. Aku paling tidak suka berkenalan dengannya. Belum lagi urusan birokrasi yang rumit. Itu sepintas ingatanku tentang rumah sakit. Jadi kenapa harus kesini, tanganku masih baik-baik saja. Tak perlu obat, nanti juga sembuh sendiri. ‘Begitulah Asmat’ kata banyak orang atau istilah lainnya ‘ajar ampuh’.

Entah…kaki ini mengikuti saja langkahnya meski berat. Ruang pertama yang dituju ada tertulis “Ruang Gawat Darurat”. Kenapa juga menuju ruang ini, bukankah tidak ada yang darurat. “Perikasalah kesana, itu tanya susternya. Kutunggu disini” enak sekali perintahnya padahal aku masih males masuk ruangan itu.

Kujelaskan dengan detail semua pertanyaan si penjaga ruang ini. Dan jawabnya begitu singkat pada akhirnya “daftar dulu diruang sebelah lalu nanti lanjutkan keruang poli”. Ealah mbak..mbak kenapa tidak dari tadi, cukup tanya sudah daftar belum.

Ruang kedua kutuju. Diam saja aku didepan ruang itu. Lima menit berlalu, karena ‘manusia bogor’ asyik bernostalgila dengan para petugas loker pendaftaran. Mereka berbincang hal-hal yang tidak kupahami sama sekali. Sesekali petugas bertanya hendak ngapain kesini, bertanya identitasku sekenanya sambil cekikian.

“Nona atau Ibu?” pertanyaan pertama petugas loker padaku langsung setelah aku dicuekin sekian menit. “Ibu yang masih Nona” kujawab dengan santai. Entah kenapa orang-orang sini senang sekali menyebut semua ‘pinjuru’yang berjenis kelamin perempuan dan dirasa sudah bekerja dengan sebutan Ibu. Apa karena pada mulanya para pendatang adalah guru yang biasa disebut ibu? Atau profesi-profesi lain yang sekiranya butuh formalitas? Aku tidak tahu pasti.

Pertanyaan kepo tentang diriku berakhir dan selesai loker pertama. Oh ya diloker pendaftaran pertanyaan tentang sakitkupun sebelas dua belas dengan orang yang kutemui diruang gawat darurat tadi. “Berapa?” pertayaan  umum yang tidak butuh rumus. “Gratis, lanjut kesebelah sana. Nona sudah masuk dalam Jamkesmas dan besuk kalo kesini bawa kartu itu lagi”, sebentar aku begong  karena peristiwa itu.

Semudah itukah mendapatkan Jamkesmas? Ini bukan karena aku diantar manusia bogor yang begitu dekat dengan petugas itu bukan? Ini memang layanan pemerintah yang diberikan pada semua rakyatnya kan tanpa kecuali tho? Kalau diminta memilih tentu aku pilih sehat dan tidak mendapatkan kartu ini. Bagiku Jamkesmas itu barang mewah ditempat lahirku.

Kartu ini kubawa kepoli. (Lagi) aku ditanyai tentang sakitku. Untuk ketiga kalinya kujelaskan apa yang sedang menimpa dengan jempolku. Oh…kupikir ini ruang terkahir yang harus kudatangi. Ngantri. Aku diminta duduk diruang tunggu. Seorang berbaju putih, masih muda memang wajahnya. Ini to dokter sebenarnya. Untuk bertemu dokter muda ini jalannya panjang sekali. Keempat kalinya kujelaskan apa yang terjadi.

Lalu dokter memberi keterangan panjang lebar yang membuatku rasanya menjadi manusia paling bodoh sedunia. Dulu ketika kuliah apa tidak ada pelajaran khusus untuk menebar senyum atau memberi sedikit keramahan pada pasien ya. Ataukah karena dokter ini bertugas dari pagi hingga malam sehingga nampak lelah, tidak gantian dengan dokter lainnya. Entalah.

Belum selesai. Apotek menjadi tujuan akhir agar obat bisa kuterima. Berbekal selembar kertas yang disebut resep dokter. Ragu-ragu kuinjakkan kaki ini didepan apotek. Kakiku hendak bergerak kearah berlawanan. Aku ingat betapa mahalnya obat yang harus kutebus beberapa bulan yang lalu ketika sakit kurasakan.

Kala itu obat yang hanya berjumlah berapa butir saja harus kutebus dengan angka yang diluar dugaanku. Kupikir lembaran merah dengan tulisan seratus ribu cukup. Tidak. Lembaran itu dikatakan cukup jika jumlahnya ada 4. Pengalaman itu yang membuatku ingin melangkah keluar dari rumah sakit. Aku hanya bawa lima ribu, itu yang tersisa dikantong celanaku. Langkahku terhenti. “Sudah sana ambil obatnya, aku bawa uang” cegah manusia bogor itu “baiklah aku pinjem dulu nanti setelah aku tahu harus bayar berapa ya” jawabku. 

“Obat ini diminum dua kali sehari, yang ini tiga kali sehari. Ini obat oles untuk luar” penjelasan apoteker yang sesekali kusela dengan pertanyaan. Bagiku, yang penting semua perintah itu tertulis dalam plastik obat itu sudah cukup. Obat oles kutolak karena obat serupa ada dirumah. Kutolak, siapa tahu ada yang lebih membutuhkan karena stok dirumah cukup. Kudapatkan obat oles itu dari puskesmas dikampung Pirimapun.

Kuperoleh obat itu tanpa diperiksa, suster cukup melihat sakitku kala itu. Itupun karena tidak sengaja. Anaknya suster itu bermain-main didepan gereja dengan anak salah satu tim delsos dan kebetulan mereka bersaudara jauh. Ketika suster itu menjemput anaknya, kami ngobrol sebentar dan lukaku dilihatnya. Sehari setelah kejadian itu obat oles dan minum datang. Aku enggan meminum obat itu karena rasanya tidak ada pemeriksaan yang semestinya. (Mungkin) suster tersebut sudah yakin dan biasa melihat lukaku sehingga tidak perlu bertanya panjang lebar. Hanya obat luar saja yang kupakai. Nah obat luar ini sama dengan yang akan diberikan oleh apoteker.

Semua obat itu masuk dalam satu kantong plastik. Kaget. Ketika kuketahui bahwa tidak membayar satu rupiahpun. “Tidak bayar bu? Sama sekali tidak membayarkah?” pertanyaanku kuulangi lagi. Begitulah adanya. Semua gratis dari awal hingga akhirnya kudapati obat-obat itu. Semua karena kartu sakti yang disebut Jamkesmas ini. Jawab sang apoteker singkat karena aku sudah terdaftar dalam kartu jamkesmas.

Kartu cuma-cuma yang kudapati satu jam yang lalu. Kartu yang kuperoleh tanpa syarat apapun bahkan sekedar menunjukan KTPpun tidak. Berharap kabar gembira ini juga dialami oleh banyak orang yang tidak paham sekalipun. Mereka yang tersingkir, miskin, lemah dan semua orang yang pantas mendapatkannya.

Agats adalah salah satu distrik (kecamatan) di Kabupaten Asmat, Papua, ini adalah distrik paling ‘modern’ dikabupaten ini. Keberadaan Sinyal hp dan listrik PLN menjadi penandanya.

Pinjuru adalah sebutan untuk para pendatang, rasanya seperti ‘bule’ ditanah Asmat ini karena ada sebutan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *